Heroes of Elmoreden : I.2
admin | Apr 20, 2009 | Comments 0
Chapter 2 : The worst Elven Elder Ever
Siang hari yang cerah di aden. Kota pusat pemerintahan itu nampak selalu ramai. Ratusan pedagang bersama hewan – hewan peliharaan membentuk pasar di tengah kota. Menciptakan suasana hiruk pikuk yang agak kurang cocok untuk kota yang disebut pusat pemerintahan.
GEDUBRAKKKKKKK !!!!
AAAAAAAAAAAHHHH!!!
ADUH!!
Dimana nih? Seorang bishop memandang berkeliling sambil membersihkan bajunya
Disisinya seorang dwarf berkuncir kuning memasang tampang masam, berusaha berdiri dengan bantuan palunya yang besar.
“Lohhh?? Kok disini?? INI KANN… ” kamael cewek bertampang galak. Belum sempat menyelesaikan kalimatnya, seorang warlord menyambar lanjutannya.
“EINHASAD TEMPLE” geram warlord berambut coklat gelap itu “ATAP EINHASAD TEMPLE !!!!” ia mendelik memandang elf cewek dihadapannya yang masih terhuyung huyung.
“Kita teleport ke SAMPING EINHASAD TEMPLE !!!” ” bukan di ATAP EINHASAD TEMPLE!!” dwarf kuncir kuning marah – marah
“APA KATA GW TADI, MENDING GW AJA YANG TELEPORT!!” si Bishop berteriak jengkel
Elf cewek yang udah berhasil berdiri cuma menunduk tersipu malu
“mm maaf..” si elf menjawab lirih
“GW GA NGERTI KENAPA DIA BISA LULUS JADI ELVEN ELDER SIH??”
“TELEPORT AJA GA BECUS” warlord berambut coklat gelap ngomel panjang lebar
“Dah gw aja yang teleport!” si bishop lalu menggumamkan mantera pendek ” Tring…”
Semenit kemudian mereka semua berdiri di pinggir taman, dengan kondisi lengkap, tak kurang suatu apapun.
si bishop langsung menjauh sambil menyeret paksa warlord berambut coklat
“sakit nih, paan sih…” sang warlord berusaha melepas cengkeraman si bishop
“ngapain lu ajak elder dodol itu sih? Emang ga ada elder laen??” bisiknya tepat di kuping si warlord
“tadi gw cari di temple, sepi , Cuma ada dia doang.. ” jawab si warlord
“laen kali jangan ajak dia ah” si bishop terus berjalan menjauh bersama warlord disisinya
Valmariel menunduk sedih, tak terasa air mata meleleh dari matanya.
Wanita kamael bertampang galak itu sudah menghilang entah kemana, dwarf yang tadi bersamanya juga hilang. Valmariel melangkah perlahan menuju Einhasad Temple dengan sedih.
Kerumunan para pedagang menyambut Valmariel di tengah kota. Teriakan teriakan pedagang dalam berbagai logat membuat aden sangat berisik. Tapi Valmariel merasa beruntung, karena segala keberisikan itu tak pernah sampai ke dalam asramanya di belakang Einhasad Temple. Mungkin karena dinding dindingnya yang tebal.
Bruaakkkk !!!
“Kalo jalan liat liat dong !!!” dwarf mungil yang barusan ditabraknya mendelik marah.
Valmariel membungkuk dan memohon maaf untuk yang kesekian kali hari ini.
Dwarf itu berbalik arah sambil menggerutu kesal.
Valmariel menarik nafas panjang, dan menahan air matanya agak tidak tumpah. Gerbang Einhasad temple terlihat sepi. Valmariel melewati gerbang yang sepi, berbelok ke kanan menuju asrama.
“Valmariellll,… Haiii Vaaall…” sebuah suara terdengar dari belakang, Valmariel berbalik dan melihat Aerith berlari mendekatinya.
“darimana sih tadi?, eh abis nangis yah? Kenapa?” aerith memberondong Valmariel dengan pertanyaan.
“nggak apa apa” Jawab Valmariel pelan
“Salah kasih obat?, salah kasih paket?” kembali aerith memberondong
Valmariel hanya menggelengkan kepalanya.
“salah teleport yah.” Aerith berkata lagi tanpa basa – basi. Valmariel mengangguk pelan. Aerith selalu bisa mengerti dirinya. Hanya aerith yang mau berteman baik dengan Valmariel. Semua orang di temple menghindari valmariel dan menganggapnya makhluk dari dimensi lain yang harus dihindari. Kamarnya aja ditaro paling ujung di asrama, nempel ke tembok kota Aden.
“ntar gw ajarin teleport yang bener deh ya” hibur aerith , Valmariel berusaha tersenyum tapi hasilnya malah terihat seperti seringai yang aneh.
“Sini makan yuk, gw punya ayam panggang” Aerith menarik tangan Valmariel ke ruang makan. Di tangannya ada bungkusan coklat berukuran sedang.
“hmm, enak nih ..” Valmariel menarik sepotong ayam dari piring dihadapannya
“tadi kenapa ?” Tanya aerith ingin tahu. Valmariel pun menceritakan semua kejadian di Field of Massacre, doom knight aneh yang ngga mati mati walau dihajar 1 party, dan kekacauan saat teleport.
Aerith hanya mengangguk angguk sambil menelan daging ayamnya.
Aerith adalah seorang bishop pintar yang kaya raya, putri bangsawan kuno di oren. Hobbynya adalah cari duit dan menumpuk kekayaan sebanyak banyaknya. Valmariel juga tak habis pikir kenapa bishop matre seperti Aerith mau berteman dengannya. Tapi ia tak pernah terlalu perduli pada kenyataan itu.
“Yuk belajar teleport”, Aerith langsung berdiri setelah menghabiskan ayamnya. “hah? Masa sekarang? Cape ah” Valmariel kaget
“sekarang aja ayo cepet” Aerith meraih lengan Valmariel dan menyeretnya ke taman.
“Konsentrasi pada tujuanmu, lalu ucapkan manteranya, kayak gini nih” Aerith memperagakan teleport jarak pendek ke ujung taman. “Ayo, coba” desak aerith
Valmariel menghabiskan sisa sore itu dengan berusaha berteleport dengan benar ke segala penjuru taman. Teleport pertama membawanya ke semak mawar berduri, hasilnya bajunya sobek, walau tak parah. Teleport kedua berhasil, walau tak memenuhi jarak yang ditentukan Aerith. Teleport kesepuluh membuat Valmariel nyemplung ke kolam air mancur. Dan sukses membuatnya basah kuyup. Aerith dengan kejamnya, tetap memaksa Valmariel melakukan 50 teleport lagi sampai memenuhi harapannya.
Total 20 teleport gagal dan sisanya bisa dianggap cukup berhasil. Langit hampir gelap saat Aerith melepaskan Valmariel.
Lelah, kehabisan mana, badan sakit semua. Valmariel melangkah gontai menuju kamarnya. Valmariel mendorong pintu kamarnya yang tak pernah dikunci.
Yah kau takkan perlu mengunci kamarmu kalau didalamnya ada seekor Fenrir ganas yang siap meremukkan apa saja yang mendekat.
Sepasang mata berkilau memandang Valmariel dari kegelapan. Sesaat Valmariel terlonjak kaget dan akhirnya menyadari kalau Slavin sedang menatapnya. Valmariel meraba dinding, menyalakan lampu. Ruangan itu segera dibanjiri cahaya lembut yang nyaman. Slavin berbaring di ranjang, menegakkan leher, memandang Valmariel yang kusut dan berantakan dengan tatapan mencela.
“Hai, main kemana hari ini?” Valmariel duduk di ranjangnya mengelus kepala Slavin.
Slavin menggeram lembut dan membiarkan Valmariel mengelus punggungnya.
Valmariel bangkit, mengambil perlengkapan mandinya dan bersiap siap untuk makan malam.
Langit Aden cerah dihiasi bintang – bintang. Valmariel dapat mencium samar -samar harum masakan dari depan kamarnya. Latihan teleport tadi membuat perutnya keroncongan. Ruang makan sudah dipenuhi berpuluh – puluh healer serta para tamu dari berbagai ras yang tinggal atau menginap di asrama Einhasad Temple. Riuh rendah suara percakapan terdengar seperti suara ribuan lebah mendengung. Ruang makan itu diisi berbagai macam meja dengan berbagai ukuran. Ruangan itu kira kira berisi 100 orang. Langit – langitnya tinggi. Lampu lampu kristal menjuntai dari atap. Sementara jendela jendela besar memperlihatkan pemandangan jalanan Aden di malam hari.
Valmariel memandang berkeliling mencari aerith, dan setelah menemukannya lalu duduk di sebelah Aerith. Menu malam mini adalah daging panggang, pai keju dan daging, bebek panggang, sup dan roti. Aerith sedang menyendok sup di mangkuknya lalu menghirupnya pelan pelan. Valmariel mengambil daging panggang ke piringnya dan mulai makan.
“dah bisa kan teleportnya?” Aerith bertanya sambil meraih teko jus di tengah meja. Seorang pelayan mendekat mengambil piring-piring kosong.
“yah mayan, sakit badan nih” keluh Valmariel jengkel
Aerith tertawa lebar dan meneguk jus jeruknya.
Diluar malam semakin gelap, angin sejuk berhembus masuk ke dalam ruangan. Di ujung ruangan ada meja besar tempat para pengurus utama temple makan. Ruangan itu berangsur – angsur sepi. Orang – orang bergerombol mulai meninggalkan ruang makan.
Valmariel pergi ke meja utama dan membungkus daging panggang dan pai keju. Ia memandangi piring berisi bebek panggang, dan memutuskan membawa bebek panggang juga.walau Ia tak yakin Slavin suka bebek panggang. Kemudian aerith memberi saran yang meyakinkan Valmariel bahwa fenrir juga perlu sayuran dan vitamin, Aerith menjejalkan beberapa buah jeruk dan sayuran ke dalam keranjang yang dibawa Valmariel. Setelah itu mereka kembali ke kamar masing – masing.
Slavin sedang berbaring di ranjang ketika Valmariel masuk dengan keranjang penuh makanan. Valmariel menyodorkan daging panggang yang dibawanya. “makanlah, yang banyak” bisiknya pelan sambil memandangi Slavin mengunyah dagingnya. Beberapa saat kemudian semua daging habis, termasuk bebek panggang. Pai keju sama sekali tak disentuh. “Coba nih , enak” Valmariel memotong sedikit pai itu dan menyodorkannya pada Slavin. Slavin mengendus pai di tangan Valmariel dan mengabaikan tawaran itu. Berikutnya Valmariel membujuk slavin makan jeruk dan selada.
“ayo, makan jeruknya, Aerith bilang fenrir harus makan sayuran dan buah” Jelas Valmariel. Slavin berbalik dan melompat kembali ke ranjang, kemudian berbaring. Memandang Valmariel dengan tatapan puas.
Valmariel menyerah, dan mulai membereskan sisa sia makanan itu.
Pagi berikutnya dimulai dengan jilatan di wajah Valmariel, memaksanya bangun. Valmariel bangun dan mandi dengan mata setengah tertutup. Sambil mandi Valmariel memutuskan untuk mengambil cuti hari ini.
Sesudah mandi Valmariel menuju ruang kepala Einhasad Temple Aden. Ruangan kepala Temple berada di samping hall utama temple. High Priest Grant mempersilahkannya masuk.
“Ah kebetulan sekali Valmariel ” High Priest Grant menyambutnya. “Hari yang cerah kan” Pendeta tua itu tersenyum. Kerutan di wajahnya terlihat jelas, tapi tak menyembunyikan sinar matanya yang ramah.
“Ya pendeta, hari yang baik untuk berlibur saya rasa” Valmariel tanpa ragu mengungkapkan keinginannya .
“Aku setuju, tapi sebelum itu ada surat untukmu” Sang pendeta menyodorkan sebuah gulungan perkamen yang disegel merah.
Valmariel menerima surat itu, melepas segelnya dan mulai membaca.
“Bagaimana menurutmu?” Sang High priest memandangnya penuh harap
“Saya akan kesana” Valmariel menjawab memandang balik sang pendeta
“bagus, semoga berkat Einhasad menyertaimu” sang pendeta tersenyum gembira. Kemudian ia menyodorkan sebuah bungkusan kain. “Ini sedikit bekal untuk perjalananmu” katanya
Valmariel menerimanya. “terimakasih pendeta, atas kebaikan anda”
“Kau bisa memanfaatkan hari ini untuk mempersiapkan perjalananmu ke Rune.” Sang pendeta berdiri dari kursinya. Valmariel mengikuti sang pendeta, berdiri dari kursinya.
“Permisi dulu pendeta, sekali lagi terimakasih atas kebaikan anda”
Valmariel berbalik dan keluar dari ruang kepala temple dan kembali ke kamarnya.
Slavin menyambut Valmariel, mengibasnya ekornya yang besar.
“sarapan yuk?” Valmariel mengajak slavin ke ruang makan. Disana mereka duduk disudut ruangan. Ruang makan tak terlalu ramai saat pagi hari. Valmariel mengambil pancake dan mengoleskan keju krim diatasnya. Kemudian Ia mengambil sebongkah besar daging asap untuk Slavin.
Para penghuni ruangan itu tak memperdulikan Valmariel. Yah mungkin itulah yang paling baik untuk dilakukan bila kau melihat seorang gadis elf duduk dan menyuapi Fenrir besar di sudut restoran. Setidaknya Fenrir itu tak membuat kau jadi menu sarapan paginya.
Sisa hari itu dihabiskan Valmariel dengan berenang dan berjalan – jalan di danau bersama Slavin dan Aerith. Ia mencoba memancing tapi keliatannya ikan-ikan tak tertarik dengan umpannya. Menjelang sore Valmariel kembali ke asramanya dan mempersiapkan kepergiannya ke Rune.
“Besok kita ke Rune, kau sudah pernah kesana?” Valmariel berbisik pelan, ia mengelus punggung slavin. ” kata aerith kota itu agak seram” kemudian valmariel menambahkan dengan bimbang. Mereka sedang duduk di padang rumput disisi barat Aden. Malam itu sejuk. Angin bertiup dari danau, menggoyangkan dedaunan. Aden memasuki musim panas, udara kering mulai menyapu daratan elmoreden. Hujan sudah jarang turun.
Valmariel berbaring memandang langit kelam yang bertaburan bintang. “Aku takut ke rune, entah kenapa” Slavin memiringkan kepalanya dan memandangi valmariel dengan mata birunya.
“kadang kuharap kau bisa berbicara..”
“hanya aerith yang dan kau yang mau jadi temanku” Slavin mengeluarkan suara dengusan pelan.
Mungkin aku memang aneh, tidak ada orang yang sembuh dari luka secepat ini
Valmariel memeriksa luka-luka bekas semak mawar kemarin. Tidak ada bekas luka disana, bahkan goresan tipis sekalipun.
Monsterrr, singkirkan diaa…anak itu monsterrr
Pembawa sial, dia bencana bagi desa ini!!!
Angin kembali bertiup, menimbulkan suara gemerisik dari pohon pohon di kejauhan. Riak air danau terdengar samar dibawa angin.
Gadis itu menarik napas panjang, berdiri, lalu melepaskan segala kesedihannya dalam satu hembusan nafas. “pulang yuk” Mereka berjalan beriringan kembali ke asrama.
Popularity: 5%
Related posts:
Filed Under: Stories
About the Author:

















