Heroes of Elmoreden I.3

Chapter 3 : Forest of Dead

Rune township pukul tujuh pagi. Kabut mulai menipis, uap lembab dari laut menyesakkan dada rayner. Suara peluit kapal dari pelabuhan Rune terdengar sesekali.

Rayner meregangkan tubuhnya. Membuka matanya dengan enggan.

Langit langit coklat kusam menyadarkan rayner bahwa ia masih berasa di kota kabut. Begitulah Rayner menyebut Rune.

Rayner bangun dan pergi mandi.

Valmariel sedang berbaring miring, rambut panjang pirangnya kusut. Setengah badannya tertutup selimut coklat yang terlihat hangat. Ia bergeser ke kiri lalu berguling dan berdebum keras kelantai.

Sunyi sesaat

“………………..”

Valmariel membuka matanya, menggerutu pendek, duduk dan menggosok matanya. Ia menoleh dan mendapati Slavin sedang bertengger di ranjang, menegakkan leher dan menatap valmariel.

Ia berani bersumpah kalau slavin sedang tertawa

Setengah jam kemudian Valmariel sedang duduk sarapan di lantai bawah stony inn. Ruangan itu hangat, sedikit berbau lembab. Dindingnya disusun dari batu batu besar. Di sudut ruangan ada perapian yang cukup menghangatkan ruangan. Harum roti yang baru dipanggang memenuhi ruangan, bercampur dengan kelembaban. Seorang koki gemuk terlihat sibuk didapur yang pintunya terbuka. Pelayan hilir mudik membawakan kopi dan teh.

Dihadapannya ada Rayner, seorang gladiator ganteng. Tapi Valmariel tak memperhatikan tampang si gladiator. Ia lapar dan sarapannya enak sekali. Valmariel memotong roti bakarnya dan menyuap beberapa potong sekaligus.

Rayner menyerah mengajak bicara gadis elf yang terlihat lapar berat, jadi dia mengeluarkan peta rune dari tasnya mempertimbangkan rute terbaik memeriksa Forest.

“Fenrirmu kayaknya lapar” celetuk rayner

“oh..?” Valmariel baru sadar kalau Slavin juga belom makan

Ia memandang piringnya yang hampir kosong lalu menoleh memandang Slavin

Fenrir itu membalas tatapannya dengan sorot mata mencemooh

Valmariel kembali ke piringnya lalu menghabiskan sisa sarapannya

“…………….”

“pet food nya abis?” rayner memecah kesunyian diantara mereka

“slavin ga mau makan wolf food”

“trus?”

“kadang dia bisa puasa beberapa hari”

“trus kamu ngga suruh dia makan?”

“kan dia ga mau”

“…………..”

Tiba – tiba Rayner merasa kasihan pada si Fenrir

Selesai sarapan mereka keluar dari penginapan bersama – sama. Rayner pergi ke Blacksmith mengambil pedangnya. Valmariel berjalan – jalan di pasar sebentar sekalian beli potion.

Pasar nya tidak seramai Aden. Beberapa dwarf berpakaian warna warni membuka toko di pinggiran jalan. Valmariel melihat buah – buahan eksotis yang dijajakan di beberapa kios. Warnanya kuning dan oranye cerah, menarik sekali.

Matahari sudah tinggi ketika mereka bertemu di dekat gatekeeper.

“Siap?” Tanya rayner

Valmariel memeriksa ulang tas nya , lalu menganggukkan kepala.

Aura suram dan misterius menyambut Valmariel dan rayner di sisi forest of dead. Walaupun siang hari, hutan itu tampak gelap. Kabut mengambang tipis. Sinar matahari sedikit – sedikit muncul dari kerapatan pepohonan. Menciptakan bayangan suram. Mereka mulai berjalan memasuki hutan.

Rayner mengayunkan pedangnya sesekali menebas semak dan ranting, membuka jalan. Valmariel mengusap keringat di dahinya, entah kenapa ia merasa mereka sedang diamati oleh sesuatu.

Mereka masuk semakin dalam

Beberapa saat kemudian kabut semakin tebal, Valmariel mulai kehilangan arah. Hutan itu semakin gelap. Samar – samar ia melihat sebuah sosok bergerak di kejauhan.

“Rayner?, kau disana?” Valmariel bergerak mendekati sosok itu.

Slavin tiba – tiba menggeram, memamerkan taring nya yang setajam gergaji.

“ada apa?” bisik Valmariel, berlutut di sisi Slavin.

Sosok hitam di kejauhan itu menghilang. Keringat dingin mulai meluncur di tengkuk valmariel.

“Rayneeeerrr?…” teriaknya

Tiba tiba ia melihat sesosok hitam mendekat, dengan suara bergemeretak seperti besi berkarat.

Slavin melompat dan menerjang makhluk itu tanpa peringatan.

Shaaatss !!! makluk itu mengayunkan pedangnya menyerang slavin

Taring tajam slavin menancap di leher dan merobek lehernya. Makhluk itu tampak terhuyung sesaat.

Slavin menggeram keras, lalu kembali menerjang, mencakar dan menggigit makhluk itu. Sesaat kemudian makluk itu roboh dengan suara berkelontangan. Dan memudar perlahan lahan

“A..pa itu?” Valmariel yang shock hanya diam membeku di tempatnya. Jantungnya berdenyut keras dalam dada. Panik.

“Valmarieeeell..” teriakan rayner terdengar dari kejauhan

“Rayneeeeeerrr, tolooonnng” akhirnya valmariel berhasil mengendalikan kepanikannya

Sesaat kemudian rayner muncul dari balik kabut.

“Kemana sih kamu?” Rayner merengut jengkel

“Jalannya jangan cepet cepet, aku kesasar tadi” balas valmariel, berusaha menenangkan dirinya

Rayner mendengus kesal.

“Tadi ada monster” lapor valmariel, tangannya menunjuk pada sisa makhluk tadi

“hati -hati makanya, ayo jalan cepat” “makhluk itu ada dimana mana”

Valmariel berusaha tak merasa takut, lalu kembali berjalan dibelakang Rayner

Mereka kembali menembus pepohonan dan kabut tebal aneh yang terasa seperti uap lengket. Dikejauhan terdengar suara lonceng dan peluit kapal. Perlahan pepohonan mulai berkurang dan mereka sampai di sebuah tempat terbuka. Sebuah reruntuhan yang kelihatannya sebuah desa kosong. Bangunannya sudah banyak yang hancur dan ditumbuhi tanaman rambat.

Mereka memutari dan memeriksa reruntuhan itu

“lihat sini, ada jejak manusia” seru rayner

Valmariel mengamati bekas bekas tapak kaki itu, “iya, artinya disini harusnya ada orang kan”

Mereka memandang berkeliling. Di ujung desa terlihat sebuah rumah yang masih agak utuh

Jendela rumah itu berdebu, tak ada tanda – tanda kehadiran orang. Rayner memeriksa pintunya

“tak dikunci” kata rayner pelan, ia mengangkat pedangnya mendorong pintu itu.

Suara berderit keras mengiringi daun pintu yang terbuka.

Valmariel dan rayner masuk, dan memeriksa ruangan demi ruangan. Mereka menemukan sebuah meja reot dan beberapa perabotan lapuk, dan makanan yang sudah berjamur.

“KRAAKKK”

Sebuah suara berderak dari lantai atas mengagetkan mereka. Rayner memberi isyarat agar valmariel mengikutinya. Tangga menuju loteng mulai rapuh, dan menimbulkan suara berkeriut mengerikan setiap diinjak. Suasana loteng tak berbeda jauh dengan lantai bawah. Ada dua ruangan disana.

“Yang ini pintunya tak bisa dibuka” kata valmariel

“biar kudobrak” Rayner menghantam pintu itu dan langsung terbuka dengan suara derakan yang keras.

Ada tiga bocah sedang meringkuk di sudut ruangan, memandang Valmariel dan Rayner dengan rasa takut.

“wow..”

“wow?” Tanya rayner heran.

Valmariel mendekati anak – anak itu “hai, namaku valmariel” lalu mengulurkan tangan

Anak itu hanya diam, memandang valmariel dengan tatapan takut dan bingung.

Rayner mendengar suara berkeriut dari tangga,lalu  memberi isyarat sembunyi kepada valmariel. Sayang nya valmariel tak dapat menemukan tempat yang cukup tersembunyi di ruangan loteng itu.

Sesosok pria muncul dari tangga. Ia kumal, kurus membawa tongkat kayu dan terlihat seperti gelandangan.

“Siapa kalian?” sosok itu terkesiap saat melihat Valmariel dan Rayner.

“Josen?” Rayner bertanya

“bagaimana kau tahu namaku?” Josen menjawab, masih berdiri kaku di ujung tangga, tangannya mencengkeram tongkat kayu.

“Glyvka memintaku membawakan sesuatu untukmu” Rayner mengambil sesuatu dari kantungnya lalu memperlihatkan benda itu di tangannya.

Pandangan Josen melembut, ia berjalan tertatih – tatih kearah rayner.

“Apa yang terjadi disini?”

sepuluh menit kemudian mereka sedang duduk di loteng. Anak anak sedang memakan bekal yang dibawa valmariel.

“aku menemukan anak anak ini di tengah hutan sekitar seminggu yang lalu”

“para penduduk menduga kau yang menculik anak – anak itu” rayner memandang Josen

Josen menarik napas berat, terbatuk dan kembali melanjutkan ceritanya

“dua bulan yang lalu, aku diusir dari rune, mereka menuduhku melakukan sihir hitam”

“ya glyvka sudah cerita padaku” potong rayner tak sabar

Josen tak memperdulikan reaksi rayner, ia mengangkat tangannya memperhatikan kalung yang diberikan glyvka lalu mendekapkan kalung itu di dadanya.

“Bagaimana glyvka? Dia baik – baik saja?” Josen bertanya

“dia sehat, hanya sedih” jawab Rayner

“Lanjutkan ceritamu tuan Josen” Valmariel mendesak Josen bercerita lebih jauh

“mereka membawaku ke forest untuk membunuhku, tapi sesuatu terjadi”

“kabut tebal turun, lalu muncul sosok sosok hitam yang menyerang rombongan”

“hanya kau yang selamat?” Valmariel penasaran

“ya, aku sangat ketakutan, aku berlari sekencang mungkin ke dalam hutan, dan akhirnya menemukan tempat ini.”

“aku bertahan hidup dengan memakan buah – buahan dan jamur yang ada di hutan”

“Sekitar seminggu lalu ku menemukan anak – anak ini terperosok di pinggir jurang, lalu kubawa mereka kesini”

“Kaki Phil patah” Josen mendekati seorang anak lalu memperlihatkan balutan di kakinya.

Valmariel mendekat, memeriksa luka di kaki bocah itu. “hmm, ini harus ditahan agak tidak bergerak, atau dia akan cacat”

“aku tak mempelajari pengobatan” kata Josen ,” hanya ini yang bisa kulakukan”

“Coba kulihat apa yang bisa dilakukan” kata Valmariel, lalu ia menjelajahi ulang rumah itu.

Valmariel menemukan sepotong dahan tipis yang cukup kuat di bekas perapian di lantai bawah, dan menggunakannya untuk menyangga kaki si bocah.

Sementara itu Matahari semakin surut, kabut mulai menutupi desa itu.

“kita harus cari tempat berlindung” tiba tiba Josen berdiri

“rumah ini masih bisa dipakai kan?” Tanya Valmariel

“Makhluk – makhluk itu bisa masuk kesini bila pintu tidak terkunci, dan satu satunya pintu yang bisa dikunci sudah hancur” Josen memandang pada sisa sisa pintu yang didobrak Rayner

Rayner cuma mengangkat bahu

“Dekat sini ada gua kecil, disana aman” lanjut Josen lagi

“ayo ke sana” Valmariel membereskan makanan yang masih tersisa.

Gua yang dituju Josen terletak di pinggir jurang. Di dasar jurang itu mengalir sungai yang terlihat cukup deras. Mulut gua itu cukup lebar untuk dilalui orang dewasa. Lokasinya terlindung dibalik kerimbunan semak.

“Kita bermalam disini, besok kalian bisa kembali ke rune” kata Josen

“aku kumpulkan ranting – ranting kering dulu, tolong jaga anak anak ini” kata Josen

“Baiklah” Valmariel berkata

“kau percaya sama orang itu?” Tanya rayner pada valmariel setelah Josen pergi

“hmm, iya, kayaknya dia orang baik” jawab Valmariel

“awas tuh fenrir, nanti gigit anak anak” Rayner mengingatkan

Valmariel menoleh, dan melihat anak – anak itu sedang menarik ekor Slavin. Dan ada yang berniat menunggangi fenrir itu.

“Heiii, jangan tarik ekornya..” seru valmariel

Anak – anak itu hanya tertawa – tawa sementara Slavin tak tampak terganggu dengan ulah anak itu.

Josen menyalakan api di tengah gua. Di luar gua hari mulai gelap. Angin dingin mulai berhembus, tapi semak yang menyembunyikan lokasi gua itu melindungi gua dari angin kencang.

“aku lapar…” hanna berkata lirih. Anak itu memiliki rambut pirang yang lembut.

“bekalku sudah habis” kata valmariel ” sabar ya, besok kita pulang pagi – pagi” Hibur Valmariel

Rayner diam ia hanya duduk di pinggir api menerawang ke dalam api.

“Fenrirmu kemana?” Tanya Josen pada Valmariel

“euh,.. ” Valmariel memandang berkeliling dan tak menemukan fenrirnya. “tadi sih ada..”

“…………”

Josen kemudian berusaha menidurkan anak – anak itu,, ia menceritakan sebuah dongeng.

“KRRSSSKK… KRRSSSKK”

Rayner refleks bersiaga dengan pedangnya bersiap menyambut apa saja yang datang

Valmariel berdiri tegang menghadap ke mulut gua

Sebuah kepala keabuan menyembul dari balik semak, bagian tubuh lainnya menyusul

Slavin sedang menyeret sesuatu.

Ya, seekor baby buffalo…lehernya robek dan mengucurkan darah kemana mana

Slavin menyeret korbannya ke dekat api, kemudian melepaskan gigitannya, lalu berdiri penuh kebanggaan.

“astaga..”

Valmariel memandang almarhum baby buffalo itu dengan perasaan kasihan.

Rayner menyambut gembira oleh – oleh dari Slavin. Ia segera maju dan menguliti si baby buffalo

Valmariel memilih minggir ke dalam gua, menghindari pemandangan mengerikan itu.

Satu jam kemudian mereka semua menikmati daging panggang yang lezat. Setelah semua kenyang, anak – anak pergi tidur. Rayner memutuskan berjaga.

Slavin berbaring di salah satu sisi di pinggir gua. Sebuah kilau dari leher Slavin menarik perhatian Rayner

“Lambang itu?” rasanya pernah lihat

Rayner berusaha mengingat – ingat, tetapi ia tak bisa mengingat apapun. Kepalanya kosong dan mulai terasa berat.

“Tangkap mereka !!” sebuah teriakan keras dari mulut gua mengagetkan Valmariel

“Lho, apa yang terjadi?” Tanya valmariel bingung

Rayner bergegas keluar

“Kakak, aku takuttt, ” phil, bocah berwajah pucat itu mulai merengek memeluk valmariel

“sssst, diam dulu” sabar ya tunggu rayner dan josen disini

Valmariel meraih Valhalla swordnya dan bergerak menuju mulut gua.

“ternyata kalianlah penculik itu!!”

“Bukan, aku baru menemukan mereka disini..” Josen berkata

Di mulut gua tampat sekelompok penduduk dan beberapa tentara rune, membawa obor dan senjata.

“Sudah hajar saja, beri mereka pelajaran”

“Tuan Kelvin mengijinkan kita menghukum para penculik itu bila ditemukan soerang penduduk berkata

“sabar tuan tuan” teriak rayner,” dengarkan penjelasan kami”

“Aku tidak menculik anak – anak itu” Josen beteriak mengatasi keributan

“BAKAR PENYIHIR ITUUU…….”

Para penduduk mulai menyerang mereka

Josen AWASS !!! Rayner sedang menghindar dari ayunan parang seorang penduduk.

“HEAL !!” Cahaya putih menyelubungi Rayner yang dikeroyok 4 tentara. Valmariel merapal beberapa mantera lagi untuk membantu Rayner. Sementar Josen sedang berusaha menghindar dari pukulan yang diarahkan ke tubuhnya.

Slavin menyerang setiap makhluk yang mendekatinya, menggeram keras dan menerjang. Valmariel hanya bisa terdiam melihat Fenrirnya menancapkan taring dan merobek leher para penyerangnya.

Akhir perkelahian tak seimbang itu sudah bisa ditebak. Para penduduk itu berhasil meringkus rayner dkk. Sekitar selusin prajurit mengeroyok Slavin dan berhasil meringkusnya.

“Bawa yang dua itu ke tahanan” Seorang berseragam , memberikan perintah dan kelihatannya pangkatnya paling tinggi disitu.

“tunggu, Josen mau dibawa kemana?” Jerit Valmariel saat melihat josen diseret ke arah jurang

“Lepaskan aku tak bersalah ” teriak josen meronta

Salah seorang mengeluarkan pedang dan mengayunkannya ke arah Josen

“TIDAAKKK” Jerit Valmariel

Tubuh Josen Limbung dan melayang ke bawah jurang

Popularity: 4%

Share This Post: These icons link to social bookmarking sites where readers can share and discover new web pages.
  • Digg
  • del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Blogosphere News
  • email
  • Facebook
  • Google Bookmarks
  • LinkedIn
  • Propeller
  • Slashdot
  • Sphinn
  • Spurl
  • Technorati
  • TwitThis

Related posts:

  1. Heroes of Elmoreden : I.1
  2. Heroes of Elmoreden : The Gathering
  3. Heroes of Elmoreden : Interlude I
  4. Heroes of Elmoreden : I.2
  5. Heroes of Elmoreden : First Mission

Filed Under: Stories

Tags:

About the Author:

RSSComments (0)

Trackback URL

Leave a Reply